
Banjarmasin, 2025 Sebuah kejadian luar biasa mengguncang dunia pemrograman. Seorang siswa magang dari SMK Negeri 2 Banjarmasin bernama Fariz sukses menciptakan website untuk sekolah dasar (SD) menggunakan Fastify, salah satu framework backend tercepat di dunia yang biasa dipakai oleh perusahaan teknologi raksasa seperti Netflix dan Microsoft.
Langkah ini sontak membuat dunia developer lokal gempar, sebagian terinspirasi, sebagian lagi menatap layar sambil berkata,
“Bro, itu web SD, bukan sistem pertahanan nuklir…”
Namun Fariz tetap tak gentar. Dengan semangat 1000 ping request per detik, ia membangun proyek ini dari nol, menggabungkan performance optimization, microservice architecture, dan caching layer hanya untuk menampilkan halaman “Selamat Datang di SD Kami”
Visi Luar Angkasa di Balik Web SD
Menurut wawancara eksklusif, Fariz mengaku ia sengaja menggunakan Fastify “demi masa depan pendidikan digital Indonesia.”
“Saya cuma ingin memastikan kalau guru SD buka halaman profil, waktunya loading lebih cepat dari anak SD yang jawab ‘hadir’ pas absen,” ujarnya dengan mata berbinar.
Fariz juga menambahkan sistem JWT Authentication agar hanya pihak berwenang yang bisa mengedit konten website. Padahal, satu-satunya yang login cuma kepala sekolah yang masih lupa password.
Bahkan, dalam catatan teknis proyeknya, Fariz menulis integrasi Docker container dan auto-deploy pipeline di Vercel meski realitanya website itu cuma menampilkan tiga menu: Beranda, Guru, dan Kontak.
Teknologi Overkill untuk Dunia Pendidikan Dasar
Salah satu pengunjung, seorang wali murid, mengaku terkejut ketika membuka situs tersebut.
“Saya pikir ini website NASA. Ternyata cuma jadwal piket anak saya,” katanya sambil tertawa.
Dengan arsitektur yang mampu menampung 100.000 request per detik, Fariz seakan mempersiapkan diri untuk kemungkinan lonjakan trafik global apabila suatu hari murid SD di seluruh Indonesia serentak mengakses web itu untuk melihat jadwal upacara.
Para pengamat IT menyebut langkah Fariz ini sebagai bentuk overengineering paling heroik tahun ini.
“Biasanya orang bikin web SD pakai HTML dan PHP seadanya, tapi Fariz datang dengan Fastify, Prisma, Redis, dan Swagger. Ini bukan magang, ini deklarasi perang terhadap web statis!” ujar salah satu mentor teknologi dengan nada bangga sekaligus bingung.
Reaksi Dunia Developer
Komunitas developer di Banjarmasin pun heboh. Ada yang mengangkat Fariz sebagai simbol “Fullstack Developer Masa Depan”, ada pula yang menyebutnya “Iron Man versi magang SMK”.
Di beberapa forum, muncul komentar-komentar seperti:
“Dia ngoding buat SD, tapi skalanya kayak mau ngeluncurin roket SpaceX.”
“Web SD-nya bisa survive DDoS, tapi belum tentu survive kalau koneksi Wi-Fi sekolah mati.”
Bahkan rumor menyebutkan Fariz sedang mengembangkan fitur baru: AI Guru Virtual yang bisa menjawab pertanyaan murid dengan natural language. Kalau berhasil, bisa jadi ini akan jadi SD pertama di dunia yang punya chatbot wali kelas.
Masa Depan Sang Visioner
Kini, Fariz disebut-sebut akan melanjutkan proyek ini menjadi platform EduTech skala nasional. Kabarnya ia juga sedang menguji integrasi dengan Blockchain dan Artificial General Intelegence (AGI) untuk mencatat nilai rapor siswa agar “otomatis, transparan dan immutable.”
“Biar nggak ada lagi orang tua yang protes nilai anaknya turun,” kata Fariz sambil tersenyum kalem, walau di dalam hatinya masih bingung gimana cara bikin tombol ‘Kembali ke Beranda’ nggak bug.
Meski proyek ini terkesan terlalu canggih untuk kebutuhan sekolah dasar, satu hal yang pasti:
Fariz berhasil membuktikan bahwa anak SMK pun bisa berpikir jauh melampaui zaman bahkan melampaui kebutuhan realitas.
Penutup
Proyek ini menjadi bahan pembelajaran penting bagi dunia pendidikan: bahwa teknologi tidak mengenal batas, bahkan untuk menampilkan “Selamat Datang di Website Kami”, kita bisa melakukannya secepat Fastify dan seambisius Fariz.
Selamat untuk Fariz si Developer Visioner dari SMK 2 Banjarmasin, yang telah berhasil membawa “semangat scalable” ke dunia anak SD!
Karena siapa tahu, 10 tahun lagi murid-murid SD itu yang bakal bilang:
“Wah, dulu web sekolah kami aja udah pakai Fastify.”